Archive for the ‘Tokoh’ Category
Spiderman
24.00 tepat, saya baru saja memarkir kendaraan saya di car port rumah saya di Arcamanik. Gerimis masih turun membasahi kota Bandung di pagi buta ini. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, kali ini saya sama sekali tidak merasa lelah, senyum menghiasi bibir saya seperti layaknya anak kecil baru saja dibelikan sepeda baru oleh orang tuanya.
Entah saya sedang bersyukur atau sekedar bahagia, saya sendiri tidak bisa mendifinisikannya dengan pasti. Yang jelas saya ingat, di perjalanan pulang tadi, hal yang membuat saya tersenyum (mungkin untuk pertama kalinya hari ini) adalah pengalaman saya di pertigaan lampu merah di depan Plaza T**kom jalan Supratman di tengah gerimis yang mulai deras membasahi kota Bandung.
Setan
Konon di bulan Ramadhan makhluk yang paling dibebaskan dari segala tugasnya adalah setan. Bebas dari tugas menggoda manusia. Menyeru dan mengajak kepada kesesatan. Entah dia harus berbahagia atau bersedih akan fakta ini, saya tidak tahu. Yang jelas dalam persepsi manusia, setan setidaknya memiliki satu bulan masa cuti tiap tahunnya, mau diambil atau tidak – hanya setan yang mengerti bagaimana memanfaatkan fasilitas ini.
Shih Huang Ti Sang Perkasa
Anugerah tidak selamanya berarti pahala, bisa juga kutukan, bisa ujian atau mungkin cobaan hidup. Ketika Midas yang raja turun dari Gunung Olympus, ia tersenyum, konon karena ranting yang ia sentuh tiba-tiba menjadi emas. Ia makin gembira ketika pohon, batu, yang ia raba berubah jadi emas. Ia baru saja mendapat anugerah dari Dewa Zeus, dewa mitos orang Yunani. Seluruh pintu dan perabotan istananya menjadi emas, bahkan beberapa menterinya yang tidak luput dari sentuhannya, terbelalak matanya ketika menjadi emas. Akan tetapi ketika ia akan kencing, dan ingin Read the rest of this entry »
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Ketika perang Vietnam berlangsung dengan dahsyat, tahun 1970, di tengah hutan di propinsi Me Kang Kang, satu peleton pasukan Green Berets dipimpin oleh sersan Money Do-Little membuat kubu pertahanan, dan menetap di sana sebagai patroli pengintai terdepan.
Di ketinggian limapuluh meter dari kubu itu, di atas pohon trembesi yang besar dan rindang, Silaw Dan Trang seorang sniper (baca: penembak jitu) tentara Viet Kong menempati posnya. Siang dan Read the rest of this entry »
Agus Salim
Agus Salim adalah diplomat ulung yang pernah dimiliki suatu bangsa. Beliau fasih beberapa bahasa asing dan pandai berpidato, belajar sendiri tanpa guru, sering memakai sarung dan peci, berkumis dan berjanggut. Konon dalam suatu pertemuan dengan Belanda, ketika beliau naik ke atas podium, sebagian hadirin dengan riuhnya mengembik-embik, tanda tidak senang. Dengan tenang beliau membuka pidatonya : “Hadirin sekalian, barangsiapa di antara hadirin merasa dirinya seekor kambing, kami persilahkan keluar ruangan, karena pertemuan ini hanya disediakan untuk manusia, bukan untuk kambing-kambing”. Maka jadi malulah antek kolonial yang mengembik-embik.
George Bernard Shaw
Dusta, sebagaimana halnya cinta, adalah perkakas umum, tidak manusiawi, tetapi duniawi, perkakas yang universal. Dusta di mana-mana sudah menjadi semacam ‘social practice’ belum lagi dengan alasan ‘pragmatic’.
Shih Huang Ti dan Tukang Kereta
Hidup adalah sebuah perlombaan tanpa bisa ditentukan terlebih dahulu siapa sang pemenang. Dalam perlombaan pasti ada yang harus kalah, seperti kata Chairil Anwar: “Hidup hanya menunda kekalahan”. Kitapun yakin: kadang-kadang memang kalah.
Pada jaman kaisar Shih Huang Ti, 2500 tahun yang lampau, hidup seorang tukang kereta yang sudah uzur, tetapi tangkas, berani dan cerdas. Ia selalu menang perang, lagi pula juara lomba balap kereta di seantero jagad daratan Cina. Karena prestasinya tidak pernah terkalahkan, kasiar menyuruh putra mahkota berguru, agar kelak di samping menjadi kaisar, ia bisa sebagai sais ulung di dunia. Setelah lama belajar dan berlatih dengan giat dan tekun, putra mahkota menjadi mahir pula, dan tukang kereta itu sudah menganggap setara. Shih Huang Ti, pembangun tembok besar Cina, adalah pemimpin yang bijaksana. Mengetahui bahwa putranya sudah tamat belajar, untuk mengujinya dirancanglah perlombaan kereta sejauh 100 li (50 km) antara sang guru dan sang murid.



