one way ride ticket to nowhere

Chicken Soup for My Soul

Golf olahraga siapa? (bagian 1)

with one comment

Suatu ketika Andree Harahap kawan saya yang lama tinggal di negeri orang datang berkunjung. Di akhir liburannya di Indonesia kami menghabiskan waktu bermain golf di salah satu padang golf kota Bandung. Banyak hal yang kami perbincangkan saat duduk di club house sambil menghabiskan kopi pagi itu sebelum tee off. Dari mulai perbincangan mengenai green fee (biaya bermain golf) hingga perbedaan kultur olahraga golf di dalam dan di luar negeri. Satu hal yang menggelitik adalah ketika dia menuturkan dengan terang-terangan bahwa dirinya merasa jengah dan sedikit jijik (muak) karena melihat foto-foto pejabat, pemimpin daerah dan petinggi-petinggi TNI tengah melakukan golf swing di tee box, yang dipampang di dinding club-house. “Apa sih maksudnya? Sangat tidak relevan”. Tidak memberikan aura yang bagus untuk mengimage-kan golf sebagai olahraga, katanya. Saya hanya tersenyum simpul, mengiyakan.

Kesimpulan sementara kami saat itu, salah satu kendala kenapa olahraga ini kurang begitu populer di Indonesia adalah masalah image olahraga golf di mata masyarakat kita. Sayang sekali, memang. Padahal pada golf banyak sekali value positif yang membuat saya jatuh cinta berat pada olahraga ini.

Sejak saat itu saya berpikir, mungkin lapang golf kebanyakan, di Indonesia, didirikan di atas tanah yang dibebaskan melalui sengketa berkepanjangan sehingga menimbulkan sentimen negatif. Atau didirikan di atas lahan produktif yang sebenarnya bisa lebih bermanfaat untuk diberdayakan oleh masyarakat sekitar. Atau juga mungkin lapang golf itu sendiri didirikan menyalahi kaidah-kaidah tata letak ruang dan wilayah atau RUTRW pemerintah setempat (kalaupun ada). Jawabannya bisa bermacam-macam.

Masalah biaya? Memang saya akui golf tergolong olahraga yang mahal. Dari mulai kepemilikan stick atau club set yang sebenarnya variasi harganya cukup besar, hingga ongkos untuk bermain secara rutin di lapangan.

Harga club set

Tidak perlu membeli club-set terbaru dengan merk terkemuka untuk mulai belajar golf. Seperti yang saya katakan sebelumnya, harga club-set ini variasinya cukup besar dari mulai Rp. 1.000.000 sampai yang harganya Rp.50.000.000 ke atas. Bahkan untuk yang bekas, kita cukup bisa memperolehnya mulai dari harga Rp. 750.000. Setahu saya banyak juga beredar barang-barang Cina dan Taiwan untuk mode-model terbaru dari merk-merk terkenal, harganya kurang lebih Rp. 1.000.000 hingga Rp. 1.750.000. Jadi, dengan sedikit menggali informasi kita bisa menyesuaikan kebutuhan dengan isi dompet kita.

Ongkos bermain

Lazimnya, seorang pemula berlatih memukul bola golf pada sebuah driving range. Mereka menyediakan sekeranjang bola untuk kita yang jumlahnya (biasanya) distandarisasi dalam paket 100 bola. Harga per 100 bola ini bermacam-macam tergantung driving rangenya. Mulai Rp. 35.000 hingga Rp. 50.000 adalah harga per 100 bola yang lazim yang ada di driving range-driving range kota Bandung. Setelah mantap dan percaya diri, kita bisa mencoba untuk bermain 9 atau 18 hole di lapang sebenarnya.

Bermain pada golf course untuk pertama kali bisa menjadi pengalaman berharga. Tidak semua orang yang berlatih dan mencapai hasil yang baik di karpet driving range akan sekonyong-konyong sukses mencapai hasil sesuai ekspektasi di lapangan. Banyak faktor seperti kondisi rumput, tingkat kesulitan course, course-management (skill), mental pressure, dan kondisi fisik akan ikut menentukan keberhasilan ketika kita bermain di sebuah golf course. Banyak yang merekomendasikan dalam seminggu, untuk mencapai hasil yang signifikan, minimal kita harus menghabiskan waktu 2 kali di driving range di tambah satu kali terjun di lapangan.

Sebuah golf course di Indonesia biasanya memiliki harga-harga khusus pada hari-hari dan jam-jam tertentu. Kita bisa memperoleh informasi tentang harga (green fee +caddy fee) di hari-hari tertentu dengan menghubungi nomor telepon lapang golf yang bersangkutan. Biasanya weekday rate akan selalu lebih murah dibanding weekend rate-nya. Harga sangat bervariasi tergantung dari kondisi lapang dan kenyamanan fasilitas yang ditawarkan. Di Bandung sendiri, variasi harganya berkisar mulai dari Rp.75.000 hingga Rp.500.000 ke atas untuk sekali main (9 hingga 18 hole), di berbagai golf course yang ada. Tentukan terlebih dahulu tujuan anda bermain di lapang, untuk kebutuhan latihankah, atau ready for the real challenge ? Untuk sekedar berlatih pukulan dan mencoba menerapkan course management, kadang-kadang kita harus menyesuaikan dengan kondisi kocek kita demi terjaganya kontinuitas. Banyak web-site lokal yang menyediakan informasi pricing dari golf course secara lengkap di Indonesia. Cari pula tentang informasi mengenai discount yang didapatkan dari kepemilikan kita atas kartu kredit-kartu kredit atau account tabungan-tabungan tertentu. Besarnya discount bervariasi mulai 5-20 %.

Namun jangan lupa, biaya sampingan bermain golf kadang-kadang membuat kita membutuhkan extra cash di lapangan. Biaya tips caddy yang bervariasi dari mulai Rp. 50.000, 75.000 hingga sesuka kita. Lucunya, kadang-kadang caddy kerap kali menggerutu kalau tips yang ia peroleh tidak sesuai dengan ekspektasinya. Padahal namanya juga tips, toh?

Khusus masalah caddy, pengalaman Bapak bermain di Australia sempat jadi bahan pemikiran saya soal perbedaan kultur tadi. Di luar negeri, harga seorang caddy terasa sangat mahal. Lazimnya pemula turun ke lapangan tanpa didampingi caddy, karena ongkos tenaga kerja di sana, mahal. Akhirnya Bapak yang sudah tua itu harus menggendong sendiri club-bag nya ketika bermain di sana. Dan juga ada perbedaan fungsi caddy, tidak seperti di Indonesia, yang kita tahu hal itu di sini merupakan bagian dari kompromi si pengelola lapangan golf untuk memberdayakan penduduk setempat agar golf-coursenya aman dari tangan-tangan jahil. Hehehe… hallo Indonesia. Walhasil jadinya, bermain didampingi caddy menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar di front reception ketika kita bermain pada golf course di Indonesia.

Written by rizaldi

July 28, 2008 at 6:23 am

Posted in How to be a better golfer

Tagged with

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. mmmm, kapan-kapan saya di ajak main golf dunk, hehehe
    jabat erat

    ahsani taqwiem

    August 25, 2008 at 4:48 am


Leave a Reply