one way ride ticket to nowhere

Chicken Soup for My Soul

Shih Huang Ti Sang Perkasa

with 6 comments

Anugerah tidak selamanya berarti pahala, bisa juga kutukan, bisa ujian atau mungkin cobaan hidup. Ketika Midas yang raja turun dari Gunung Olympus, ia tersenyum, konon karena ranting yang ia sentuh tiba-tiba menjadi emas. Ia makin gembira ketika pohon, batu, yang ia raba berubah jadi emas. Ia baru saja mendapat anugerah dari Dewa Zeus, dewa mitos orang Yunani. Seluruh pintu dan perabotan istananya menjadi emas, bahkan beberapa menterinya yang tidak luput dari sentuhannya, terbelalak matanya ketika menjadi emas. Akan tetapi ketika ia akan kencing, dan ingin makan karena lapar, barulah ia sadarbahwa anugerah yang ia terima, ternyata sebuah kutukan, karena Midas terkenal sangat tamak akan harta, maka apapun yang disentuh menjadi emas.

Kaisar Shih Huang Ti, sang penakluk, pemersatu seluruh daratan Tiongkok pada kurang lebih 200 tahunan Sebelum Masehi, mempunyai seorang jendral pintar dan gagah perkasa, yang dengan mudah membuat negara kecil sekelilingnya bertekuk lutut.

Kaisar akhirnya iri dan cemburu kepada jendral yang setia dan hampir tidak punya cacat dan kesalahan itu. Suatu waktu jendral itu dikirimi makanan yang lezat-lezat, penuh lemak jenuh seperti babi, jeroan, bebek goreng, yang khusus dimasak di dapur kaisar, sebagai anugerah. Ketika jendral yang konon berpenyakit darah tinggi, kolesterol dan asam urat menumpuk itu menerima hidangan tersebut, ia menangis sedih, “Oh, kaisar sudah tidak senang padaku, ia mengharapkan kematianku”. Setiap hari makanan datang, setiap kali itu pula, karena setia, sang jendral melahapnya sampai ludes. Jendral itu mati karena serangan jantung, karena sedih, berumur tidak lebih dari 33 tahun. Anugerah bisa menipu, bisa juga bikin celaka.

Menurut salah seorang guru sejarah saya, entah ketika SMP atau SMA, suku bangsa pengembara Tuareg (Badwi), yang di Afrika itu, hampir bisa membedakan mana yang pahala dan mana yang petaka. Apabila sesuatu yang buruk terjadi, mereka akan berkata, “Mektoub”, sudah tertulis, memang ditakdirkan begitu. “Kismet” sudah nasib, apa boleh buat. Kita harus menerima kenyataan. Betapa seringnya hidup kita ditentukan nasib.

Konon di antara suku itu belum pernah ditemukan penyakit jantung karena sedih, kecewa, bete, atau karena sakit hati. Mereka biasanya pasrah terhadap hal yang tidak mungkin dihindari atau dielakkan. Mungkin kata-kata Mektoub dan Kismet merupakan obat yang paling mujarab daripada seribu obat penenang.

Walaupun tempatnya berjauhan, di halaman pertama ‘loose leaf’ yang isinya catatan kuliah, Budhi Haruman teman saya menulis, “Ya Allah, berilah saya kekuatan untuk menerima sesuatu yang tidak dapat dirubah, berilah saya keberanian untuk merubah apa yang dapat dirubah, dan berilah saya kebijaksanaan untuk membedakan antara keduanya”.

Bila bulan purnama, anak-anak Tuareg sepertinya biasa melagukan lagu kasidah merdu ini:


“Apabila Allah hendak menghinakan kehidupan seekor rayap,
dimuliakan-Nya rayap itu dengan dua belah sayap,
akhirnya ia terbang mencari api, yang membuat dirinya mati.
Apabila Allah hendak memuliakan kehidupan seekor ulat,
dihinakan-Nya ulat itu menjadi kepompong,
berhari-hari ia terkurung,
akhirnya ia menjadi rama-rama, dengan indahnya terbang kemana suka.”

Ketika pada tahun 300an SM Shih Huang Ti tebaring sekarat, ia berbisik kepada anak-anaknya, “Betul kata Kong Hucu, kita tidak dapat melihat bayangan wajah kita di air yang mengalir, kita hanya dapat melihatnya di air yang diam”.

Dan Shih Huang Ti yang gagah perkasa, memang lantas terdiam untuk selamanya, menyusul jendral-jendralnya.

Written by rizaldi

June 22, 2007 at 5:49 pm

Posted in Tokoh

Tagged with

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Jero mang,

    Kata kuncinya: takdir, tawakal, contemplate, interest. Awalnya interest, sebab manusia sudah ditakdirkan memilikinya. Untuk itu, dengan segala daya upaya manusia meraihnya. Dalam mengejar interest, kita terkadang tidak memiliki waktu untuk berkontemplasi, memikirkan kapan harus tawakal, kapan terus mengejar.

    Pertanyaan selanjutnya mas Boy, persoalan mas Boy yang masih menjomblo sampai sekarang, apakah itu takdir yang masih bisa diubah atau tidak? Berkontemplasilah…

    (heureuy mang… :D )

    Sidik

    June 26, 2007 at 10:44 am

  2. Belum waktunya dik… belum sampai pada waktunya… hehehe.

    Boy

    August 6, 2008 at 4:00 am

  3. hmm,
    sedikit terkuak nich kehidupan sang “jendral”,
    sebutan saya untuk penulis diatas….
    saya yakin, kalau sang jendral emang belum mau “berkompetisi”, pasti itu karena “Mektoub” & “Kismet”.
    hmm, :)
    ……………………………

    rahmadisrijanto

    August 11, 2008 at 2:29 pm

  4. hmm,
    sedikit terkuak nich kehidupan sang “jendral”,
    sebutan saya untuk penulis diatas….
    saya yakin, kalau sang jendral emang belum mau “berkompetisi”, pasti itu karena “Mektoub” & “Kismet”.
    hmm, :)

    rahmadisrijanto

    August 11, 2008 at 2:34 pm

  5. Hehehe… enggak pas kalo dibilang mektoub atau kismet juga pak. “Tidak menyempurnakan ikhtiar” – mungkin bakal lebih menjelaskan… hehehe.

    Yang pasti, bakal tetap membuka diri atas kemungkinan dapet kenalan-kenalan baru dari mas adhie juga kok. :P
    (namanya rejeki & jodoh kadang-kadang jalannya enggak kita sangka-sangka toh mas? :) )

    Boy

    August 11, 2008 at 5:11 pm

  6. hmmmmm……….

    tomsdc2

    December 15, 2008 at 1:32 pm


Leave a Reply