one way ride ticket to nowhere

Chicken Soup for My Soul

Archive for November 2004

Prisoners in Paradise

with one comment

Jean de La Fontaine, gemar bercerita, ia seorang bijak dan humoris ulung, yang hidup di Prancis dari tahun 1621 hingga 1695 (Kalau tidak salah). Dengan kerendahan hati ia berumpama melalui percandaan binatang-binatang, hanya karena segan bila langsung menunjuk sifat tidak sempurna umumnya manusia. Beberapa ceritanya kita ingat seperti pernah mendengarnya dari orang tua kita, ketika kanak-kanak.

Read the rest of this entry »

Written by rizaldi

November 29, 2004 at 7:52 am

Posted in Ngalamun

Tagged with ,

Ada dan Tiada

without comments

Di sebuah Sekolah Dasar di suatu negara yang menganut sistem pendidikan liberal-modernis (baca: kemerdekaan berpersepsi), seorang guru berkata kepada anak-anak murid kelas enam, “Apakah kalian melihat diri saya?”
Mereka menjawab, “ya.”
“Dengan begitu, berarti saya ada,” kata sang guru.
“Apakah kalian melihat papan tulis?” tanyanya lebih lanjut.
“Ya.”

“Jika demikian, papan tulis itu ada.” kata sang guru.
“Apakah kalian melihat meja itu?” tanyanya lebih lanjut.
“Ya.”
“Berarti meja itu ada,” kata sang guru.
“Apakah kalian melihat Tuhan?” tanyanya lagi.
“Tidak.”
“Itu berarti Tuhan tidak ada,” guru itu berhenti sampai di sini.

Selanjutnya, seorang murid yang cerdas berdiri dan bertanya,
“Apakah kalian melihat akal guru kita?”
Mereka menjawab, “tidak.”
“Dengan demikian, akal guru kita tidak ada!” lanjut anak itu sambil duduk kembali dengan manisnya.

Written by rizaldi

November 29, 2004 at 7:49 am

Posted in Ngalamun

Agus Salim

without comments

Agus Salim adalah diplomat ulung yang pernah dimiliki suatu bangsa. Beliau fasih beberapa bahasa asing dan pandai berpidato, belajar sendiri tanpa guru, sering memakai sarung dan peci, berkumis dan berjanggut. Konon dalam suatu pertemuan dengan Belanda, ketika beliau naik ke atas podium, sebagian hadirin dengan riuhnya mengembik-embik, tanda tidak senang. Dengan tenang beliau membuka pidatonya : “Hadirin sekalian, barangsiapa di antara hadirin merasa dirinya seekor kambing, kami persilahkan keluar ruangan, karena pertemuan ini hanya disediakan untuk manusia, bukan untuk kambing-kambing”. Maka jadi malulah antek kolonial yang mengembik-embik.

Read the rest of this entry »

Written by rizaldi

November 29, 2004 at 7:46 am

Posted in Tokoh

Tagged with

Kiat

without comments

Pada suatu hari di musim dingin yang berkabut, di pinggiran kota Tokyo, dengan kaki terpincang-pincang, seorang laki-laki yang kelihatan sangat tua dan kotor, bahkan sangat miskin memasuki sebuah toko makanan yang mewah, yang baru saja dibuka hanya untuk membeli sepotong roti sarapannya karena sejak kemarin sore, perutnya tidak kemasukan makanan sedikitpun.

Read the rest of this entry »

Written by rizaldi

November 16, 2004 at 4:20 am

Posted in Ngalamun

Tagged with

Dubur

with one comment

Ada seminar. Mata, Limpa, Jantung, Ginjal, Kaki, semua berkumpul untuk mendiskusikan peran setiap bagian tubuh. Tulang punggung yang lazim disebut, tidak ikut. Kalau mau jujur memang ia tidak seharusnya selalu diandalkan. Mata berkata: “Tanpa saya hidup tidak ada artinya. Tanpa saya manusia tidak dapat melihat hijaunya hijau, terangnya bulan, dan cantiknya panorama”.
Jantung pun angkat bicara: “Tanpa saya kehidupan itu sendiri tidak akan pernah ada”. Semua terdiam. Mana ada yang berani menggugat kemustahakan jantung. Peserta seminar keasyikan mendengarkan pembicara yang lain. Tiba-tiba dubur berdiri, mengacungkan telunjuknya, dan berkata: “Jadi kalau begitu saya ini tidak ada gunanya”. Semua lalu tertawa. Mentertawakan dubur yang dianggap mereka sangat tidak tahu diri. Read the rest of this entry »

Written by rizaldi

November 16, 2004 at 4:16 am

Posted in Ngalamun

Tagged with

George Bernard Shaw

without comments

Dusta, sebagaimana halnya cinta, adalah perkakas umum, tidak manusiawi, tetapi duniawi, perkakas yang universal. Dusta di mana-mana sudah menjadi semacam ‘social practice’ belum lagi dengan alasan ‘pragmatic’.

Read the rest of this entry »

Written by rizaldi

November 16, 2004 at 4:10 am

Posted in Tokoh

Tagged with

Shih Huang Ti dan Tukang Kereta

without comments

Hidup adalah sebuah perlombaan tanpa bisa ditentukan terlebih dahulu siapa sang pemenang. Dalam perlombaan pasti ada yang harus kalah, seperti kata Chairil Anwar: “Hidup hanya menunda kekalahan”. Kitapun yakin: kadang-kadang memang kalah.

Pada jaman kaisar Shih Huang Ti, 2500 tahun yang lampau, hidup seorang tukang kereta yang sudah uzur, tetapi tangkas, berani dan cerdas. Ia selalu menang perang, lagi pula juara lomba balap kereta di seantero jagad daratan Cina. Karena prestasinya tidak pernah terkalahkan, kasiar menyuruh putra mahkota berguru, agar kelak di samping menjadi kaisar, ia bisa sebagai sais ulung di dunia. Setelah lama belajar dan berlatih dengan giat dan tekun, putra mahkota menjadi mahir pula, dan tukang kereta itu sudah menganggap setara. Shih Huang Ti, pembangun tembok besar Cina, adalah pemimpin yang bijaksana. Mengetahui bahwa putranya sudah tamat belajar, untuk mengujinya dirancanglah perlombaan kereta sejauh 100 li (50 km) antara sang guru dan sang murid.

Read the rest of this entry »

Written by rizaldi

November 16, 2004 at 3:57 am

Posted in Tokoh

Tagged with ,